Sabtu, 09 November 2013





Otonomi Khusus (Otsus) yang diberlakukan di Papua sejak 2001 dengan UU no. 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus sebagai payung hukumnya, dirasakan sangat penting perananannya untuk mempercepat roda pembangunan di Papua dengan tetap menempatkan kekhususan dan kekhasan wilayah serta budaya asli Papua dalam penerapannya. Sejalan dengan itu kesejahteraan masyarakat Papua juga dirasakan meningkat dengan signifikan. Dalam rangka lebih memaksimalkan hasil pembangunan dan menyesuaikan dengan situasi konteks hari ini, konteks kekinian, dan juga konteks tantangan-tantangan atau peluang dimasa mendatang maka dirasakan perlu dilakukan perluasan terhadap konsep Otsus tersebut. Atas dasar pemikiran inilah maka lahirlah wacana Otsus yang diperluas atau Otsus plus. Gubernur Papua Lukas Enembe, dalam suatu kesempatan pernah menyampaikan bahwa Otsus plus merupakan suatu pengakuan negara kepada anak-anak Papua untuk mengelola satuan pemerintahan khusus. Otsus plus adalah janji negara yang sudah tercantum pasal 18 Undang-undang dasar 1945. Di mana 12 tahun telah Papua lalui dengan Otsus, lembaran demi lembaran, Otsus telah memberikan perubahan positif bagi Papua.


            Pemerintah Pusat memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat Papua untuk melakukan kajian terhadap wacana Otsus plus ini. Dengan demikian inisiatif terhadap konten Otsus plus ini berasal dari masyarakat Papua sendiri yang diajukan melalui pemerintah Provinsi Papua. Senada dengan apa yang disampaikan oleh pemerintah pusat, Gubernur Papua Lukas Enembe yang memenangkan Pilkada dengan dukungan luar biasa dari masyarakat Papua ini menyampaikan bahwa draft UU Otsus plus tersebut nantinya menjadi usulan dari Pemprov Papua, yang diusulkan oleh pemerintah pusat ke DPR RI, yang akan menjadi pembahasan UU Emergency. Hal ini direspon positif oleh Pemprov Papua dengan membentuk tim asistensi daerah di Papua dengan melibatkan Universitas Cenderawasih (Uncen). Perlibatan Uncen menurut Gubernur Papua  Lukas Enembe usai melantik pejabat eselon II di Lingkungan Pemprov Papua, Kamis (29/8),  karena Uncen yang merupakan lembaga pendidikan terpandang di Papua mempunyai konsep yang bagus tentang Otsus Plus, mulai dari kajian akademik, maupun rancangan sementara draft Undang-Undang Otsus Plus itu sendiri.

            Otsus Plus yang akan digulirkan juga mendapatkan respon positif dari berbagai kalangan di Papua, salah satunya adalah Prof. Dr. Karel Sesa, M.si. Akademisi yang sekarang menjabat sebagai Rektor Uncen ini disela-sela acara seminar dan pameran  bersama Uncen dan PT. Freeport Indonesia, jumat (8/11) menyampaikan bahwa Otsus plus ini merupakan kajian baru dengan harapan masyarakat Papua bisa sejahtera, dan agar kesejahteraan itu tercapai kita harus saling merangkul satu sama lain dengan semua stake holder di Papua. sejalan dengan apa yang disampaikan oleh rektor Uncen, seorang tokoh putra Papua Velix Wanggai dalam penyampaiannya kepada wartawan saat mengikuti Rapat kerja Otsus Papua di kantor Gubernur Provinsi Papua, Rabu (29/5) juga menyampaikan bahwa Otsus plus ini bertujuan untuk memberikan penegasan lagi bahwa Papua adalah : pertama, Papua itu khusus, istimewa, unik simestris dalam pemerintahan Indonesia. Kedua, mengenai identitas dan jati diri orang Papua. Ketiga, percepatan pembangunan dan keempat, Otsus plus ini harus memberikan makna rekonsiliasi untuk membangun sebuah kehidupan sosial politik yang lebih damai secara berkelanjutan. Sementara itu Wakil Ketua II DPRP, Yunus Wonda seperti yang dilansir oleh situs Bintangpapua.com, Kamis (30/5) mengatakan bahwa dalam pembahasan tentang Otsus Plus ini bukan berbicara mengenai “Papua harga mati” atau “Indonesia harga mati”, namun dibicarakan adalah hari ini rakyat ada perubahan dalam hidupnya yakni lebih mandiri dan sejahtera di segala aspek kehidupan.

            Pelaksanaan Otsus Plus juga mendapat dukungan dari Panglima Kodam (Pangdam) XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Christian Zebua, M.M. selaku pemangku komponen pertahanan dan keamanan di Papua. Pangdam mengajak seluruh pihak di Papua untuk bersungguh-sungguh mewujudkan otonomi khusus yang tujuannya adalah untuk mensejahterakan masyarakat di Provinsi Papua. Pangdam selanjutnya menyampaikan bahwa pihaknya mendukung upaya-upaya melalui Otsus plus yang dibahas pimpinan pemerintah provinsi, kabupaten/kota dan pihak terkait. Hal ini beliau sampaikan seusai menghadiri rapat kerja khusus otonomi khusus plus, Rabu (29/5) di Jayapura. Lebih lanjut menurut Pangdam, pihaknya sebenarnya juga melakukan program-program pemberdayaan masyarakat, seperti tugas perbantuan prajurit TNI di pelosok dan perbatasan untuk menjadi pengajar, mengingat di wilayah seperti itu tidak ada guru. Selain itu juga untuk tugas perbantuan penyuluhan dibidang pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan dan lainnya.

            Dengan dukungan dari seluruh komponen masyarakat maupun pemerintahan yang ada di Papua maka Otsus Plus yang memberikan sebuah kewenangan yang luas dan khusus bagi rakyat Papua akan menjadi formula yang tepat dalam mengelola potensi yang ada di Papua secara menyeluruh dan terpadu. Terlebih lagi Otsus plus ini dirumuskan oleh rakyat Papua sendiri. Dapat kita katakan bahwa Otsus plus adalah dari dan untuk masyarakat Papua. Otsus Plus adalah kekhususan Papua demi kesejahteraan seluruh masyarakat Papua.

 Sultan Syahrir

Dipublikasikan www.kodam17cenderawasih.mil.id

Jumat, 08 November 2013

Posted by Unknown Posted on 22.52 | No comments

Kemajuan Pendidikan Di Papua


Perkembangan pendidikan di papua ke arah yang lebih baik


Edgar Dalle mengungkapkan bahwa Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan, yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat mempermainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tetap untuk masa yang akan datang. Dari pengertian diatas dapat kita katakan bahwa salah satu peranan pendidikan adalah untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang dapat mendukung pembangunan. Dengan demikian Pendidikan  adalah salah satu komponen penting dalam menggerakan roda pembangunan, bahkan pendidikan menjadi salah satu indikator keberhasilan pembangunan itu sendiri. Seperti halnya di Papua, dinamika pembangunan terasa semakin cepat ditandai dengan semakin meningkatnya mutu pendidikan. Sejalan dengan hal tersebut Kualitas maupun kuantitas pendidikan juga semakin meningkat seiring semakin cepatnya laju pembangunan di tanah Papua.

Semakin banyaknya tokoh nasional baik di kalangan militer, birokrat maupun teknokrat yang berasal dari tanah Papua juga secara tidak langsung menjadi indikator dari semakin meningkatnya kualitas pendidikan di Papua. Sebut saja Annike Nelce Bowaire (juara lomba fisika dunia), Enos Rumansara (Antropolog), Hans Wospakrik (Ahli Fisika ITB), Balthasar Kambuaya (Menteri Lingkungan Hidup), Paulus Waterpauw (Wakapolda Papua), dan masih banyak lagi. Perkembangan pendidikan di Papua tidak terlepas dari usaha keras dari pemerintah baik pusat maupun daerah beserta komponen bangsa yang lain seperti TNI/Polri dan tentu saja peran aktif dari seluruh masyarakat khususnya masyarakat Papua itu sendiri.

Peran serta masyrakat dalam peningkatan mutu pendidikan dapat kita lihat dari adanya program Indonesia Mengajar yang di gagas oleh Anies Baswedan. Program ini turut membantu mengatasi masalah keterbatasan tenaga pengajar di daerah terpencil di Papua. Menurut data IndonesiaMengajar.org, tahun 2013 ini terdapat delapan orang tenaga pengajar sukarela yang tersebar di wilayah kabupaten Fak-fak Provinsi Papua Barat. Hal yang sama juga dilakukan oleh pihak TNI. Melalui operasi Pembinaan Teritorialnya, banyak prajurit TNI yang menjadi tenaga pengajar di daerah-daerah terpencil di seluruh wilayah Papua. Prajurit-prajurit TNI tersebut dengan semagat yang tinggi mencoba memberikan karya mereka sebagai guru di wilayah terpencil dengan tetap mengutamakan tugas pokoknya di bidang pertahanan dan keamanan.

Tidak hanya masalah tenaga pendidik, pemerintah juga menggenjot pembangunan fasilitas-fasilitas pendidikan. Secara fisik kita dapat melihat pertumbuhan jumlah bangunan sekolah yang ada di Papua, baik dari tingkat sekolah Dasar sampai dengan sekolah lanjutan tingkat atas. Infrastruktur pendukung seperti jalan dan jembatan juga semakin tumbuh berkembang sehingga memudahkan akses bagi masyarakat Papua untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik. Demikian juga animo masyarakat untuk mengecap pendidikan juga semakin meningkat, terlihat dengan semakin banyaknya jumlah siswa setiap sekolah dari tahun ke tahun. Peningkatan animo tersebut di respon oleh pemerintah dengan program affirmative Action yaitu memberikan prioritas bagi putra asli Papua yang ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi di Perguruan tinggi yang ada di pulau Jawa melalui jalur Beasiswa. Program Affirmative Action ini juga memberikan kesempatan yang lebih besar bagi putra asli Papua yang ingin menjadi perwira TNI. Seperti yang dilansir oleh laman resmi Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) pada hari rabu tanggal 01 Mei 2013 bahwa TNI memberikan kuota bagi 29 Putra Asli Papua disiapkan menjadi calon perwira TNI akan dibagi 20 angkatan darat, empat taruna angkatan udara serta lima taruna angkatan laut.  Pertumbuhan kuantitas secara fisik tersebut juga diikuti peningkatan mutu tenaga pendidik dengan mengoptimalkan peran Lembaga Peningkatan Mutu Pendidikan (LPMP). LPMP  secara rutin melaksanakan penataran, seminar maupun pelatihan bagi guru-guru yang ada di wilayah Papua.

Secara umum kondisi peningkatan mutu pendidikan di Papua berjalan dinamis kearah yang lebih baik. Pemerintah baik pusat maupun daerah dibantu oleh seluruh komponen bangsa lainnya terus berupaya mengatasi kendala-kendala yang ada seperti kekurangan tenaga pendidik, fasilitas pendidikan dan infrastuktur penunjang yang belum maksimal. Dengan semangat dan optimisme yang tinggi pendidikan di Papua akan berkembang dengan lebih pesat lagi.
Posted by Unknown Posted on 22.32 | No comments

Son first hero and Daughter first Love



Hari-hari yang ku lewati semakin berwarna dan bermakna dengan hadirnya dua malaikat kecilku. Emir Farrel Advansyah Bavaqy dan Quinnisa Pasca Savitry. Kegaduhan dan keceriaan selalu menghiasi suasana dibawah atap kami setiap hari. Masing - masing dari mereka memiliki keunikannya sendiri. Farrel dengan kemauannya yang keras disertai sikap sabar dan mengalahnya sedangkan Nisa dengan sikap manjanya yang selalu meluluhkan hati abangnya.

Tanpa maksud mendahului kemauan-Nya, jalan yang akan mereka tempuh masih sangat panjang dengan arena hidup yang sangat luas. Sepanjang dan seluas apapun itu, "I just wanna be his first hero and hers first love..."

To Be Continued.......

Kamis, 07 November 2013

Posted by Unknown Posted on 04.11 | No comments

Bidadari Yang Telah berkorban banyak bagiku


Andini Nurhajra SE,M.si
Sosok wanita yang pendiam dan terkesan pemalu bila anda pertama mengenalnya. Sosok yang rendah hati dan murah senyum. Hal ini berbanding terbalik bila Ia sedang membagikan ilmunya di depan mahasiswa-mahasiswanya. Anda akan mengenalnya sebagai Ibu Dosen yang tegas dan "galak" namun cair dalam penyampaian materinya. Beliau seperti menemukan dunianya bila sedang berkecimpung di dunia Pendidikan....

Disamping kesibukan luar biasa sebagai tenaga pendidik beliau juga mencurahkan lebih banyak waktu, tenaga dan pikiran untuk mengurus dua malaikat kecilnya serta tentu saja mengurus sang Suami yang merepotkan, menjekelkan tetapi sangat dicintainya :)

To Be Continued....


Senin, 04 November 2013

Posted by Unknown Posted on 20.18 | No comments

OCD.. antara kemauan dan impian

     Sekarang nih saya lagi mencoba yang namanya OCD.. Penjelasan gampangnya yaa Diet ala Oom Dedy sang Master..emang sih masih baru jalan semingguan lebih jadi blm bisa dibilang berhasil atau belum.

     Semula diet ini terasa mudah karena cukup dengan menahan lapar sampai pukul 13.00 setiap harinya dan mengakhiri makan maksimal pukul 20.00 setiap malam. 

    Yang menjadi masalah adalah bila ada teman atau atasan yang mengajak makan diluar jadwal tersebut. Lebih parahnya lagi bila yang ngajak makan itu "diri sendiri"... Wadoohh itu yang paling sulit di tawar :). 

    But so far I can Handle it well. Sekarang tinggal memelihara kemauan dengan menjadikan impian memiliki berat badan ideal sebagai Motivatornya... CaaaIIoo
Posted by Unknown Posted on 03.51 | No comments

Belajar Bahasa Inggris


PARTICIPATING IN PROFESSIONAL WORLD SPORTS IS GOOD FOR A COUNTRY


It is important for a country to participate in professional world sports. Participating in professional world sports give advantages for the country. Some benefits when participating in professional world sports include; unite the society, increasing income for the country and as the national pride.

First of all, participating in professional world sports can unite the society. The country which participate in world sports competition will have a unite supporter and those supporter is come from their own society. In the football world cup, the society will be standing, yelling, crying and laughing together to support their football national team. They throw out all of the race, tribe and political differences. They just have one purpose to support their national team. For instance, when Iraq participating in Asia Football Cup which is held in Jakarta, most of the people in Iraq stop their conflict and stand together to support their national team.

Secondly, participating in professional world sports can increase the national income. Every country which is act as the host of world sport competition such as football world cup will get the economic advantages. The national income of that country will increase from many resources such as the media license. Media in the world will compete each other to broadcast this professional football game. The license to broadcast this game is another benefit for country who act as the host of a football world cup competition. All media like ESPN, CNN and other major Sports channel will try their best to get the updated the viewer on newest status of their favorite team. As the results, national income increasing by the football world cup competition broadcasting royalty. Moreover, the other resources are visas of foreign player, taxes for the match, and merchandises selling.

Lastly, participating in professional world sports as a national pride. Become a respectable country in a particular sports will be a national pride for the country. Some of the country in the world such as Spain and Brazil considered as a respectable country in the world because of the football sport. Spain football national team is the best football team on the world based on FIFA ranks which is issue on January 2011 while Brazil is 5 times football world champions. Those things make the others country give a respect to Spain and Brazil. In the other words participating in football which is one of the professional world sports is a national pride for Spain, Brazil and the other country in the world.

To sum up, it is important for a country to participate in professional world sports.  
Participating in professional world sports brings so many advantages for country. Those advantages such as united the society, increase the national income and as a national pride.

Note : Tulisan ini dibuat saat sedang mengikuti kursus bahasa Inggris dan tentu saja terdapat banyak kesalahan di dalamnya. Paling tidak I had tried to write in English :)

Minggu, 03 November 2013

Posted by Unknown Posted on 23.31 | No comments

Resensi Buku


Resensi Buku

Judul buku        :  Post kolonial & Wisata sejarah dalam sejarah
Penulis              :  Zeffry  Alkatiri
Penerbit            :   Padasan
Tahun terbit      :   2012
Tebal buku       :    186 Halaman
Seperti kata pepatah “Banyak jalan menuju Roma” demikian pula cara untuk menyajikan sejarah atau peristiwa sejarah dan Zeffry Alkatiri selaku penulis buku ini memilih jalan sajak untuk mengantarkan kita mengarungi lautan sejarah.

 Buku ini dibagi menjadi dua bagian. Pada bagian pertama yang terdiri dari dua puluh satu sajak, Zeffry menuturkan tentang perjalanan sejarah Indonesia sejak era kolonoialisme yang ditandai dengan berlabuhnya kapal – kapal asing ke Nusantara (Cultus cargo, hal 3) sampai dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini (Pengakuan asli bangsa ini, hal 69). Salah satu sajak yang menarik pada bagian pertama ini adalah sajak ke 15 yang terdapat di halaman 31, yaitu “kami hanya menonton: Pengakuan si Midun, si Amat, dan si Inah”. Sajak tersebut mampu menggambarkan perjalanan sejarah rakyat indonesia dari zaman penjajahan Belanda, Penjajahan Jepang, perjuangan untuk kemerdekaan, orde lama,orde baru, reformasi hingga era sekarang ini yang diwarnai dengan korupsi dan ketidakpastian hukum.

Selanjutnya, pada bagian kedua yang terdiri dari sembilan puluh enam sajak, Zeffry mencoba membeberkan fakta – fakta sejarah dunia sejak zaman nabi Isa hadir di bumi (Desember – Februari, hal 73), revolusi Perancis (Teror prancis, Paris, 1792-1794, hal 106), penjatuhan bom atom di jepang yang merubah sejarah perang pasifik (Hiroshima-Nagasaki, 1945, hal 126) sampai dengan chaos atas nama demokrasi yang terjadi di Tunisia, Mesir dan Libya di tahun 2011 (Tunisia, Mesir dan Libya, 2011, hal 178). Dalam setiap sajak di bagian kedua ini, Zeffry mampu mengkritisi penggalan peristiwa sejarah yang menjadi icon pada masing-masing zaman dengan tulisan yang satir dan terkadang ironis.

Gaya penulisan sajak yang digunakan oleh Zeffry lebih kepada aliran realis daripada surealis. Zeffry memilih menuliskan ide – idenya dalam bentuk sajak yang lugas, tajam dan langsung ke esensi pesan yang ingin disampaikan ketimbang menghadirkan multi tafsir bagi pembaca dengan bahasa yang menerawang atau bahkan menjebak pembaca dalam ketidakjelasan makna. 

Buku ini cukup bernilai positif karena menawarkan cara yang berbeda dalam melihat ataupun mengkritisi suatu peristiwa bersejarah yaitu melalui kacamata sajak. Dilain pihak akan relatif lebih sulit bagi pembaca yang tidak mengikuti perkembangan sejarah baik sejarah Indonesia maupun dunia untuk memahami makna setiap sajak yang tersaji dalam buku ini. Demikian pula Penggunaan istilah asing dalam beberapa sajaknya cukup menyentil kengintahuan pembaca kritis untuk mencari makna dari setiap istilah asing yang digunakan, namun di sisi lain akan mengaburkan inti makna yang ingin disampaikan bila pembaca tidak punya “cukup waktu” untuk mencari arti dari istilah – istilah asing yang digunakan oleh sang penulis. Secara umum buku ini sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang memiliki ketertarikan terhadap dunia sastra dan sejarah.