Selasa, 19 November 2013

Posted by Unknown Posted on 20.41 | No comments

Belajar Puisi


SERDADUKU

Semilir angin menerpa wajah tegas nan bersahaja
Berdegup jantung berumah dada nan bidang
Mengeras lengan menyandang bedil nan Karat
Demi Merah Putih Nan Suci
           
Satu langkah dalam keseragaman
Satu rasa dalam kedisiplinan
Satu asa dalam pengabdian
Demi keutuhan bingkai NKRI

Berpeluh dalam tugas
Waspada dalam giat
Siaga dalam jaga
Demi lindungi segenap rakyat
           
            Kami bangga padamu hai serdaduku
            Kami bersamamu kibarkan semangat Merah putih
            Bersama kita jaga keutuhan NKRI
            Demi Indonesia Jaya


By S. Syah. R

Selasa, 12 November 2013

Posted by Unknown Posted on 22.56 | No comments

Learning is a word without boundaries

                                                      

image source:keterampilanmembacaastina.blogspot.com
Learning is a word without boundaries

kata pepatah sih kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina..nah apa memang harus sampai ke negeri Cina?

Kalau menurut saya sih maksudnya adalah tidak ada batasan untuk belajar sesuatu. Batasan-batasan yang hadir seringkali karena asumsi personal. Waktu, umur, tempat dan kesempatan seringkali menjadi barikade yang kita bangun sendiri untuk belajar padahal mungkin dinding penghalang itu kita bangun dengan sangat kuatnya dari campuran rasa malas sebagai batanya dan keapatisan sebagai perekatnya....

Seperti hari ini dikala saya diberikan kesempatan untuk belajar desain Web dasar diantara kami para peserta secara tidak sadar muncul sikap devensisive atau bahkan resistant terhadap materi yang akan coba “bertamu” ke otak kami. Umur yang sudah tidak  muda lagi atau tidak adanya korelasi antara materi yang diberikan dengan penugasan sehari-hari menjadi alasan idola untuk bersikap resistant tadi. Untung saja hal ini hanya terjadi di 5-10 menit awal pelajaran namun setelah itu semua peserta atau paling tidak mayoritas peserta terlihat sangat bersemangat untuk menjamu “tamu” yang berkunjung ke otak yang sudah dijejali oleh tugas pokok kami yang tidak ada hentinya.

Masalah baru muncul pada saat materi meningkat ke level yang lebih tinggi. Satu persatu peserta mulai bertumbangan di tengah jalan. Sekali lagi, untung saja pemateri sebagai masinis kereta materi desain web ini mampu menyesuaikan kecepatan sehingga peserta yang terjatuh bisa diangkut kembali.

Pada akhirnya proses belajar tidak memiliki batasan ataupun penghalang. Batasan dan penghalang itu hanyalah rekaan kita sendiri...

Because Learning is a word without boundaries...

Posted by Unknown Posted on 03.31 | No comments

Pengabdian TNI di Papua



Pengabdian Prajurit TNI Di Tanah Papua

Prajurit TNI menjadi Guru di daerah terpencil di Papua
Tentara Nasional Indonesia lahir dari rakyat dan mengabdi untuk kepentingan rakyat Indonesia. Prinsip itulah yang selalu dipegang teguh oleh seluruh prajurit TNI dimanapun mereka berada termasuk para prajurit yang bertugas di Papua. Pengabdian TNI tidak melulu dalam urusan pertahanan keamanan dalam perang bersenjata. Dewasa ini pengabdian TNI khususnya di wilayah Papua lebih kepada perbantuan percepatan pembangunan oleh Pemerintah Daerah. Bentuk nyata dari pengabdian TNI di Papua ini adalah dilaksanakannya kegiatan bhakti TNI dalam bentuk Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD).
Kegiatan TMMD rutin dilaksanakan oleh TNI diwilayah terpencil di Papua. Dalam kegiatan TMMD prajurit TNI bersama-sama dengan masyarakat setempat membangun berbagai sarana prasarana, rumah tinggal layak huni dan fasilitas umum yang dibutuhkan oleh masyarakat di wilayah tersebut. Seperti baru-baru ini para prajurit TNI melaksanakan kegiatan TMMD di daerah Kampung Wilmaker, Distrik Yendidori Kabupaten Biak Papua. Dalam kegiatan ini, sejumlah 150 prajurit TNI bersama puluhan masyarakat kampung Wilmaker berhasil membangun 20 unit rumah tipe 45 layak huni. Selain pembangunan fisik prajurut TNI juga melaksanakan  penyuluhan hidup sehat dan bersih, serta layanan kesehatan untuk ibu hamil, balita dan masyarakat umum.
Tidak hanya di wilayah Biak, TMMD juga dilaksanakan di wilayah kabupaten Puncak Jaya tepatnya di distrik Walelagama. Kegiatan TMMD di Walelagama in dilaksanakan dalam waktu 21 hari. Dalam kurun waktu tiga minggu prajurit TNI bersama rakyat setempat berhasil membangun balai pertemuan kampung, Pos Obat Desa (POD), kantor kampung, kantor PKK dan Puskesmas Pembantu. Selain itu prajurit TNI juga melaksanakan penyuluhan tentang bela negara, pertanian dan peternakan. Kegiatan TMMD ini mendapat respon positif baik dari masyarakat maupun dari Pemda setempat.
Selain kegiatan TMMD para prajurit TNI yang bertugas di daerah terpencil ataupun di pulau terluar juga menjadi tenaga pengajar bagi masyarakat di daerah tersebut. Inisiatif ini dilakukan karena kurang atau tidak adanya tenaga pengajar di daerah terperncil maupun di pulau terluar di wilayah Papua. Tidak adanya tenaga pengajar dikarenakan secara geografis daerah-daerah tersebut sulit untuk dicapai. Dengan penuh semangat para prajurit TNI tersebut menjadi guru dengan tetap mejalankan tugas pokoknya di bidang pertahan dan keamanan.
Dengan mengabdikan dirinya untuk kepentingan masyarakat, TNI menjaga jati dirinya sebagai tentara rakyat karena pada hakekatnya TNI lahir dari rakyat dan untuk rakyat. Semoga dengan adanya pengabdian TNI maka roda percepatan pembangunan di wilayah Papua dapat berjalan dengan lebih cepat demi kemakmuran seluruh masyarakat yang ada di Papua.  

Sabtu, 09 November 2013





Otonomi Khusus (Otsus) yang diberlakukan di Papua sejak 2001 dengan UU no. 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus sebagai payung hukumnya, dirasakan sangat penting perananannya untuk mempercepat roda pembangunan di Papua dengan tetap menempatkan kekhususan dan kekhasan wilayah serta budaya asli Papua dalam penerapannya. Sejalan dengan itu kesejahteraan masyarakat Papua juga dirasakan meningkat dengan signifikan. Dalam rangka lebih memaksimalkan hasil pembangunan dan menyesuaikan dengan situasi konteks hari ini, konteks kekinian, dan juga konteks tantangan-tantangan atau peluang dimasa mendatang maka dirasakan perlu dilakukan perluasan terhadap konsep Otsus tersebut. Atas dasar pemikiran inilah maka lahirlah wacana Otsus yang diperluas atau Otsus plus. Gubernur Papua Lukas Enembe, dalam suatu kesempatan pernah menyampaikan bahwa Otsus plus merupakan suatu pengakuan negara kepada anak-anak Papua untuk mengelola satuan pemerintahan khusus. Otsus plus adalah janji negara yang sudah tercantum pasal 18 Undang-undang dasar 1945. Di mana 12 tahun telah Papua lalui dengan Otsus, lembaran demi lembaran, Otsus telah memberikan perubahan positif bagi Papua.


            Pemerintah Pusat memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat Papua untuk melakukan kajian terhadap wacana Otsus plus ini. Dengan demikian inisiatif terhadap konten Otsus plus ini berasal dari masyarakat Papua sendiri yang diajukan melalui pemerintah Provinsi Papua. Senada dengan apa yang disampaikan oleh pemerintah pusat, Gubernur Papua Lukas Enembe yang memenangkan Pilkada dengan dukungan luar biasa dari masyarakat Papua ini menyampaikan bahwa draft UU Otsus plus tersebut nantinya menjadi usulan dari Pemprov Papua, yang diusulkan oleh pemerintah pusat ke DPR RI, yang akan menjadi pembahasan UU Emergency. Hal ini direspon positif oleh Pemprov Papua dengan membentuk tim asistensi daerah di Papua dengan melibatkan Universitas Cenderawasih (Uncen). Perlibatan Uncen menurut Gubernur Papua  Lukas Enembe usai melantik pejabat eselon II di Lingkungan Pemprov Papua, Kamis (29/8),  karena Uncen yang merupakan lembaga pendidikan terpandang di Papua mempunyai konsep yang bagus tentang Otsus Plus, mulai dari kajian akademik, maupun rancangan sementara draft Undang-Undang Otsus Plus itu sendiri.

            Otsus Plus yang akan digulirkan juga mendapatkan respon positif dari berbagai kalangan di Papua, salah satunya adalah Prof. Dr. Karel Sesa, M.si. Akademisi yang sekarang menjabat sebagai Rektor Uncen ini disela-sela acara seminar dan pameran  bersama Uncen dan PT. Freeport Indonesia, jumat (8/11) menyampaikan bahwa Otsus plus ini merupakan kajian baru dengan harapan masyarakat Papua bisa sejahtera, dan agar kesejahteraan itu tercapai kita harus saling merangkul satu sama lain dengan semua stake holder di Papua. sejalan dengan apa yang disampaikan oleh rektor Uncen, seorang tokoh putra Papua Velix Wanggai dalam penyampaiannya kepada wartawan saat mengikuti Rapat kerja Otsus Papua di kantor Gubernur Provinsi Papua, Rabu (29/5) juga menyampaikan bahwa Otsus plus ini bertujuan untuk memberikan penegasan lagi bahwa Papua adalah : pertama, Papua itu khusus, istimewa, unik simestris dalam pemerintahan Indonesia. Kedua, mengenai identitas dan jati diri orang Papua. Ketiga, percepatan pembangunan dan keempat, Otsus plus ini harus memberikan makna rekonsiliasi untuk membangun sebuah kehidupan sosial politik yang lebih damai secara berkelanjutan. Sementara itu Wakil Ketua II DPRP, Yunus Wonda seperti yang dilansir oleh situs Bintangpapua.com, Kamis (30/5) mengatakan bahwa dalam pembahasan tentang Otsus Plus ini bukan berbicara mengenai “Papua harga mati” atau “Indonesia harga mati”, namun dibicarakan adalah hari ini rakyat ada perubahan dalam hidupnya yakni lebih mandiri dan sejahtera di segala aspek kehidupan.

            Pelaksanaan Otsus Plus juga mendapat dukungan dari Panglima Kodam (Pangdam) XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Christian Zebua, M.M. selaku pemangku komponen pertahanan dan keamanan di Papua. Pangdam mengajak seluruh pihak di Papua untuk bersungguh-sungguh mewujudkan otonomi khusus yang tujuannya adalah untuk mensejahterakan masyarakat di Provinsi Papua. Pangdam selanjutnya menyampaikan bahwa pihaknya mendukung upaya-upaya melalui Otsus plus yang dibahas pimpinan pemerintah provinsi, kabupaten/kota dan pihak terkait. Hal ini beliau sampaikan seusai menghadiri rapat kerja khusus otonomi khusus plus, Rabu (29/5) di Jayapura. Lebih lanjut menurut Pangdam, pihaknya sebenarnya juga melakukan program-program pemberdayaan masyarakat, seperti tugas perbantuan prajurit TNI di pelosok dan perbatasan untuk menjadi pengajar, mengingat di wilayah seperti itu tidak ada guru. Selain itu juga untuk tugas perbantuan penyuluhan dibidang pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan dan lainnya.

            Dengan dukungan dari seluruh komponen masyarakat maupun pemerintahan yang ada di Papua maka Otsus Plus yang memberikan sebuah kewenangan yang luas dan khusus bagi rakyat Papua akan menjadi formula yang tepat dalam mengelola potensi yang ada di Papua secara menyeluruh dan terpadu. Terlebih lagi Otsus plus ini dirumuskan oleh rakyat Papua sendiri. Dapat kita katakan bahwa Otsus plus adalah dari dan untuk masyarakat Papua. Otsus Plus adalah kekhususan Papua demi kesejahteraan seluruh masyarakat Papua.

 Sultan Syahrir

Dipublikasikan www.kodam17cenderawasih.mil.id

Jumat, 08 November 2013

Posted by Unknown Posted on 22.52 | No comments

Kemajuan Pendidikan Di Papua


Perkembangan pendidikan di papua ke arah yang lebih baik


Edgar Dalle mengungkapkan bahwa Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan, yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat mempermainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tetap untuk masa yang akan datang. Dari pengertian diatas dapat kita katakan bahwa salah satu peranan pendidikan adalah untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang dapat mendukung pembangunan. Dengan demikian Pendidikan  adalah salah satu komponen penting dalam menggerakan roda pembangunan, bahkan pendidikan menjadi salah satu indikator keberhasilan pembangunan itu sendiri. Seperti halnya di Papua, dinamika pembangunan terasa semakin cepat ditandai dengan semakin meningkatnya mutu pendidikan. Sejalan dengan hal tersebut Kualitas maupun kuantitas pendidikan juga semakin meningkat seiring semakin cepatnya laju pembangunan di tanah Papua.

Semakin banyaknya tokoh nasional baik di kalangan militer, birokrat maupun teknokrat yang berasal dari tanah Papua juga secara tidak langsung menjadi indikator dari semakin meningkatnya kualitas pendidikan di Papua. Sebut saja Annike Nelce Bowaire (juara lomba fisika dunia), Enos Rumansara (Antropolog), Hans Wospakrik (Ahli Fisika ITB), Balthasar Kambuaya (Menteri Lingkungan Hidup), Paulus Waterpauw (Wakapolda Papua), dan masih banyak lagi. Perkembangan pendidikan di Papua tidak terlepas dari usaha keras dari pemerintah baik pusat maupun daerah beserta komponen bangsa yang lain seperti TNI/Polri dan tentu saja peran aktif dari seluruh masyarakat khususnya masyarakat Papua itu sendiri.

Peran serta masyrakat dalam peningkatan mutu pendidikan dapat kita lihat dari adanya program Indonesia Mengajar yang di gagas oleh Anies Baswedan. Program ini turut membantu mengatasi masalah keterbatasan tenaga pengajar di daerah terpencil di Papua. Menurut data IndonesiaMengajar.org, tahun 2013 ini terdapat delapan orang tenaga pengajar sukarela yang tersebar di wilayah kabupaten Fak-fak Provinsi Papua Barat. Hal yang sama juga dilakukan oleh pihak TNI. Melalui operasi Pembinaan Teritorialnya, banyak prajurit TNI yang menjadi tenaga pengajar di daerah-daerah terpencil di seluruh wilayah Papua. Prajurit-prajurit TNI tersebut dengan semagat yang tinggi mencoba memberikan karya mereka sebagai guru di wilayah terpencil dengan tetap mengutamakan tugas pokoknya di bidang pertahanan dan keamanan.

Tidak hanya masalah tenaga pendidik, pemerintah juga menggenjot pembangunan fasilitas-fasilitas pendidikan. Secara fisik kita dapat melihat pertumbuhan jumlah bangunan sekolah yang ada di Papua, baik dari tingkat sekolah Dasar sampai dengan sekolah lanjutan tingkat atas. Infrastruktur pendukung seperti jalan dan jembatan juga semakin tumbuh berkembang sehingga memudahkan akses bagi masyarakat Papua untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik. Demikian juga animo masyarakat untuk mengecap pendidikan juga semakin meningkat, terlihat dengan semakin banyaknya jumlah siswa setiap sekolah dari tahun ke tahun. Peningkatan animo tersebut di respon oleh pemerintah dengan program affirmative Action yaitu memberikan prioritas bagi putra asli Papua yang ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi di Perguruan tinggi yang ada di pulau Jawa melalui jalur Beasiswa. Program Affirmative Action ini juga memberikan kesempatan yang lebih besar bagi putra asli Papua yang ingin menjadi perwira TNI. Seperti yang dilansir oleh laman resmi Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) pada hari rabu tanggal 01 Mei 2013 bahwa TNI memberikan kuota bagi 29 Putra Asli Papua disiapkan menjadi calon perwira TNI akan dibagi 20 angkatan darat, empat taruna angkatan udara serta lima taruna angkatan laut.  Pertumbuhan kuantitas secara fisik tersebut juga diikuti peningkatan mutu tenaga pendidik dengan mengoptimalkan peran Lembaga Peningkatan Mutu Pendidikan (LPMP). LPMP  secara rutin melaksanakan penataran, seminar maupun pelatihan bagi guru-guru yang ada di wilayah Papua.

Secara umum kondisi peningkatan mutu pendidikan di Papua berjalan dinamis kearah yang lebih baik. Pemerintah baik pusat maupun daerah dibantu oleh seluruh komponen bangsa lainnya terus berupaya mengatasi kendala-kendala yang ada seperti kekurangan tenaga pendidik, fasilitas pendidikan dan infrastuktur penunjang yang belum maksimal. Dengan semangat dan optimisme yang tinggi pendidikan di Papua akan berkembang dengan lebih pesat lagi.